tips public speaking edisi #12

Hai, semoga masih bertahan dengan tips-tips public speaking ini ya. Ada kabar bagus, Tips Public Speaking ini sekarang udah masuk juga di ruangmuslim.com, silakan di cek ya. Ruang muslim adalah salah satu social networking site islami yang asli buatan anak Indonesia. Daftar ajah, lumayan, kalo lagi bosen ama twitter atau facebook, hehe.

Tips #12
STAGE ACT

Salah satu sesi yang menakutkan bagi seorang pembicara adalah sesi menjawab pertanyaan. Bagaimana kalau kita tidak bisa menjawab? Bagaimana kalau jawaban kita tidak memuaskan ? dan banyak ketakutan lain yang kita rasakan saat harus menjawab pertanyaan audience.
Sebagai awalan tentang cara menjawab pertanyaan, ada baiknya kita tahu jenis pertanyaan yang diajukan audience. Setidaknya ada dua jenis pertanyaan audience, dan dua-duanya perlu penyikapan yang bijaksana. Pertama adalah pertanyaan yang mudah dan bisa kita jawab. Kedua adalah pertanyaan yang sulit dan tidak bisa kita jawab. Tips kali ini kita bahas cara menghadapi pertanyaan tipe pertama, pertanyaan mudah yang bisa kita jawab.
Lho, koq pertanyaan mudah masih harus dibahas sih? Tinggal jawab aja kan? Mungkin ada yang berpikir begitu. Namun, sebenarnya menjawab pertanyaan mudah pun ada triknya. Agar memancing pertanyaan lain dan membuat hubungan kita dengan audience menjadi lebih baik.
Mari kita berimajinasi dan menempatkan diri sebagai audience yang bertanya. Saat mendengar materi, di pikiran kita muncul suatu pertanyaan, pertanyaan yang menurut kita PENTING dan LAYAK ditanyakan. Lalu dengan penuh kegrogian kita memberanikan diri mengacungkan tangan dan bertanya pada sesi Tanya jawab.
Kemudian apa yang terjadi, tiba-tiba pembicara dengan mudah dan cepat menjawab pertanyaan kita, seakan itu pertanyaan anak kecil. Pertanyaan yang kita sangka dahsyat ternyata cuma pertanyaan remeh. Kitapun jadi malas untuk bertanya lagi.
Tentu kita tidak ingin menjadi pembicara seperti itu. Maka, ini ada beberapa cara yang bisa dipilih untuk menjawab pertanyaan, meskipun pertanyaan itu pertanyaan remeh dan mudah.
1. Berhenti dan berpikir (atau pura-pura berpikir) jangan langsung menjawab, ini akan membantu kita menyusun kata-kata dan membuat audience yang bertanya merasa pertanyaannya berbobot, karena bisa bikin pembicara mikir.
Misal:
Q: pak, ada berapa kaki sapi?
A: hmmm,,,, (diam sejenak) sepengamatan saya, kaki sapi ada 4.
Bandingkan dengan
Q: pak, ada berapa kaki sapi?
A: kaki sapi ada 4 atuh.
2. Bila Anda tidak suka diam dan berpikir, ulang lagi pertanyaan penanya dengan bahasa Anda sendiri, atau puji pertanyaannya, atau jelaskan urgensi dari pertanyaannya.
Misal:
Q: pak, kenapa kita harus makan?
A: pertanyaan yang bagus sekali, kadang kita sangat menganggap biasa sesuatu yang sudah rutin kita lakukan tanpa mempertanyakan esensinya, pertanyaan ini penting untuk kita simak, jadi makan adalah cara kita mengisi kembali energy kita, tanpa energy kita tidak akan bisa beraktivitas.
Tentu saja contoh pertanyaan diatas kelewat sederhana, Anda bisa mengganti pertanyaan diatas dengan pertanyaan yang mudah Anda jawab seputar topik yang Anda sampaikan.
Intinya adalah,hal yang remeh dan mudah bagi kita selaku pembicara mungkin adalah hal yang penting dan mendesak bagi penanya. Hargai perbedaan pandangan ini dan kita akan menjadi penjawab pertanyaan yang lebih efektif.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.