tips public speaking edisi #13
Hola, nambah lagi ya,, ini juga ada di ruang muslim, tapi dicopy disini, abis dah ada edisi baru lagi, jadi yang lama di recycle disini, hehe
Edisi #13
ANDA PASTI TAHU
Ada banyak “norma” dalam public speaking. Semacam etika yang menjaga aliran ilmu agar tidak melenceng dari jalurnya. Salah satunya adalah aturan yang mengatakan; lebih baik menjawab dengan “tidak tahu” daripada mengarang jawaban.
Benarkah demikian?
Ada benarnya juga, apabila Anda ingin mengecewakan pendengar Anda.
Memang terkadang kita lagi sial, bertemu dengan audience yang mengajukan pertanyaan mematikan yang sulit kita jawab. Langkah paling mudah yang terbayang oleh kita adalah menjawabnya dengan tiga kata, “saya tidak tahu.” Bisa juga ditambahkan, “nanti saya cari tahu dulu ya.”
Entah mengapa dari dulu saya agak ngga sreg dengan jawaban “saya tidak tahu.” Sedikit alasannya karena jawaban itu mengecewakan bagi penanya. Mari kita menempatkan diri kita pada posisi si penanya. Saya berpendapat bahwa pembicara memiliki pengetahuan yang merupakan solusi atas masalah saya. Lalu, untuk lebih menjelaskan kondisi masalah khas saya, saya bertanya pada pembicara. Apabila saya langsung mendapat jawaban “saya tidak tahu,” saya akan merasa pembicara tidak kredibel, dan tidak berusaha mencarikan solusi untuk masalah saya yang khas.
Sebelum diantara Anda para pembaca ada yang ngamuk, saya ingin menekankan, bahwa saya setuju jika pada akhirnya kita sebagai pembicara mengatakan “saya tidak tahu.” Terutama pada pertanyaan yang memang tidak bisa kita jawab. Namun, ada alternatif lain yang bisa kita gunakan sebelum kita mengatakan “saya tidak tahu.”
Alternatif lain itu adalah sebagai berikut.
Pertama, kita tidak bisa menjawab pertanyaan audience bisa jadi karena memang pertanyaannya tidak tersusun dengan baik, tidak jelas arahnya. Ada pepatah yang bilang pertanyaan yang benar adalah separuh jawaban. Jadi, kalau kita bingung menjawab pertanyaan audience, coba perjelas dulu apa maksud penanya. Hal ini bisa dilakukan dengan mengulang pertanyaan audience dengan bahasa kita sendiri, lalu kita klarifikasi.
Misalnya seperti ini:
Penanya: pak, koq Indonesia miskin banget ya negaranya?
Jawaban yang polos adalah “waduh, ngga tau ya pak, udah kehendak Tuhan tampaknya”
Jawaban yang mencoba memperjelas “maksud bapak, apakah bapak penasaran, kenapa di Negara yang kaya sumber daya alam ini, koq rakyatnya miskin?”
Biasanya setelah pertanyaan jelas, kita bisa mengerti maksud pertanyaannya dan akhirnya bisa memberikan jawaban. Setidaknya kita mengerti kemana arah pertanyannya.
Dengan memperjelas ini, ada keuntungan lain yang didapat, yaitu audience lain juga mengerti apa yang sedang dibicarakan, bukan hanya kita dan si penanya. Sehingga audience lain tidak tidur saat kita menjawab pertanyaan.
Alternatif kedua selain memperjelas adalah dengan melibatkan audience lain. Kita tidak perlu menjadi super human yang tahu segala hal. Bisa jadi diantara audience kita ada orang-orang yang punya pengetahuan, pengalaman, keterampilan yang lebih dari kita dan mereka bisa menjadi solusi bagi masalah yang ditanyakan. Jadi, kalau ada audience yang bertanya tentang hal yang tidak kita ketahui, ada baiknya kita membuka forum untuk membahasnya bersama dengan audience lain.
Misalnya begini:
Penanya: pak, integral lipat empat itu apa sih
Saya: (dalam hati) meneketehe, saya kan orang psikologi, koq nanya matematik sih
Saya: (tidak dalam hati) pertanyaan yang luar biasa, mungkin diantara kita juga ada yang memiliki ketertarikan tentang integral lipat empat, untuk menjawab pertanyaan ini saya akan mempersilakan peserta lain yang memiliki pendapat tentang integral untuk menyampaikan opininya
Setelah ada beberapa audience yang berpendapat, tugas pembicara selanjutnya adalah menyimpulkannya. Biasanya penanya puas dengan kesimpulan yang diberikan. Lalu bagaimana jika penanya tidak puas? Nah, disini baru saya mempersilakan Anda sebagai pembicara untuk menjawab dengan “saya tidak tahu, nanti saya cari lagi jawaban yang lebih memuaskan.”


Belum ada trackback.