Good Bye,,,,

Buat para pemirsa dan pembaca blog ini, sekarang blog ini mau dibikin idle, soalnya Ervan udah pindah ke www.ervanabu.com biar lebih keren, hehehe,,,
jadi untuk perkembangan selanjutnya, cek di blog tadi aja ya,,,
makasi lho dah mau ngecek blog barunya,,,

tips public speaking edisi #13

Hola, nambah lagi ya,, ini juga ada di ruang muslim, tapi dicopy disini, abis dah ada edisi baru lagi, jadi yang lama di recycle disini, hehe

Edisi #13
ANDA PASTI TAHU

Ada banyak “norma” dalam public speaking. Semacam etika yang menjaga aliran ilmu agar tidak melenceng dari jalurnya. Salah satunya adalah aturan yang mengatakan; lebih baik menjawab dengan “tidak tahu” daripada mengarang jawaban.
Benarkah demikian?
Ada benarnya juga, apabila Anda ingin mengecewakan pendengar Anda.
Memang terkadang kita lagi sial, bertemu dengan audience yang mengajukan pertanyaan mematikan yang sulit kita jawab. Langkah paling mudah yang terbayang oleh kita adalah menjawabnya dengan tiga kata, “saya tidak tahu.” Bisa juga ditambahkan, “nanti saya cari tahu dulu ya.”
Entah mengapa dari dulu saya agak ngga sreg dengan jawaban “saya tidak tahu.” Sedikit alasannya karena jawaban itu mengecewakan bagi penanya. Mari kita menempatkan diri kita pada posisi si penanya. Saya berpendapat bahwa pembicara memiliki pengetahuan yang merupakan solusi atas masalah saya. Lalu, untuk lebih menjelaskan kondisi masalah khas saya, saya bertanya pada pembicara. Apabila saya langsung mendapat jawaban “saya tidak tahu,” saya akan merasa pembicara tidak kredibel, dan tidak berusaha mencarikan solusi untuk masalah saya yang khas.
Sebelum diantara Anda para pembaca ada yang ngamuk, saya ingin menekankan, bahwa saya setuju jika pada akhirnya kita sebagai pembicara mengatakan “saya tidak tahu.” Terutama pada pertanyaan yang memang tidak bisa kita jawab. Namun, ada alternatif lain yang bisa kita gunakan sebelum kita mengatakan “saya tidak tahu.”
Alternatif lain itu adalah sebagai berikut.
Pertama, kita tidak bisa menjawab pertanyaan audience bisa jadi karena memang pertanyaannya tidak tersusun dengan baik, tidak jelas arahnya. Ada pepatah yang bilang pertanyaan yang benar adalah separuh jawaban. Jadi, kalau kita bingung menjawab pertanyaan audience, coba perjelas dulu apa maksud penanya. Hal ini bisa dilakukan dengan mengulang pertanyaan audience dengan bahasa kita sendiri, lalu kita klarifikasi.
Misalnya seperti ini:
Penanya: pak, koq Indonesia miskin banget ya negaranya?
Jawaban yang polos adalah “waduh, ngga tau ya pak, udah kehendak Tuhan tampaknya”
Jawaban yang mencoba memperjelas “maksud bapak, apakah bapak penasaran, kenapa di Negara yang kaya sumber daya alam ini, koq rakyatnya miskin?”
Biasanya setelah pertanyaan jelas, kita bisa mengerti maksud pertanyaannya dan akhirnya bisa memberikan jawaban. Setidaknya kita mengerti kemana arah pertanyannya.
Dengan memperjelas ini, ada keuntungan lain yang didapat, yaitu audience lain juga mengerti apa yang sedang dibicarakan, bukan hanya kita dan si penanya. Sehingga audience lain tidak tidur saat kita menjawab pertanyaan.
Alternatif kedua selain memperjelas adalah dengan melibatkan audience lain. Kita tidak perlu menjadi super human yang tahu segala hal. Bisa jadi diantara audience kita ada orang-orang yang punya pengetahuan, pengalaman, keterampilan yang lebih dari kita dan mereka bisa menjadi solusi bagi masalah yang ditanyakan. Jadi, kalau ada audience yang bertanya tentang hal yang tidak kita ketahui, ada baiknya kita membuka forum untuk membahasnya bersama dengan audience lain.
Misalnya begini:
Penanya: pak, integral lipat empat itu apa sih
Saya: (dalam hati) meneketehe, saya kan orang psikologi, koq nanya matematik sih
Saya: (tidak dalam hati) pertanyaan yang luar biasa, mungkin diantara kita juga ada yang memiliki ketertarikan tentang integral lipat empat, untuk menjawab pertanyaan ini saya akan mempersilakan peserta lain yang memiliki pendapat tentang integral untuk menyampaikan opininya
Setelah ada beberapa audience yang berpendapat, tugas pembicara selanjutnya adalah menyimpulkannya. Biasanya penanya puas dengan kesimpulan yang diberikan. Lalu bagaimana jika penanya tidak puas? Nah, disini baru saya mempersilakan Anda sebagai pembicara untuk menjawab dengan “saya tidak tahu, nanti saya cari lagi jawaban yang lebih memuaskan.”

tips public speaking edisi #12

Hai, semoga masih bertahan dengan tips-tips public speaking ini ya. Ada kabar bagus, Tips Public Speaking ini sekarang udah masuk juga di ruangmuslim.com, silakan di cek ya. Ruang muslim adalah salah satu social networking site islami yang asli buatan anak Indonesia. Daftar ajah, lumayan, kalo lagi bosen ama twitter atau facebook, hehe.

Tips #12
STAGE ACT

Salah satu sesi yang menakutkan bagi seorang pembicara adalah sesi menjawab pertanyaan. Bagaimana kalau kita tidak bisa menjawab? Bagaimana kalau jawaban kita tidak memuaskan ? dan banyak ketakutan lain yang kita rasakan saat harus menjawab pertanyaan audience.
Sebagai awalan tentang cara menjawab pertanyaan, ada baiknya kita tahu jenis pertanyaan yang diajukan audience. Setidaknya ada dua jenis pertanyaan audience, dan dua-duanya perlu penyikapan yang bijaksana. Pertama adalah pertanyaan yang mudah dan bisa kita jawab. Kedua adalah pertanyaan yang sulit dan tidak bisa kita jawab. Tips kali ini kita bahas cara menghadapi pertanyaan tipe pertama, pertanyaan mudah yang bisa kita jawab.
Lho, koq pertanyaan mudah masih harus dibahas sih? Tinggal jawab aja kan? Mungkin ada yang berpikir begitu. Namun, sebenarnya menjawab pertanyaan mudah pun ada triknya. Agar memancing pertanyaan lain dan membuat hubungan kita dengan audience menjadi lebih baik.
Mari kita berimajinasi dan menempatkan diri sebagai audience yang bertanya. Saat mendengar materi, di pikiran kita muncul suatu pertanyaan, pertanyaan yang menurut kita PENTING dan LAYAK ditanyakan. Lalu dengan penuh kegrogian kita memberanikan diri mengacungkan tangan dan bertanya pada sesi Tanya jawab.
Kemudian apa yang terjadi, tiba-tiba pembicara dengan mudah dan cepat menjawab pertanyaan kita, seakan itu pertanyaan anak kecil. Pertanyaan yang kita sangka dahsyat ternyata cuma pertanyaan remeh. Kitapun jadi malas untuk bertanya lagi.
Tentu kita tidak ingin menjadi pembicara seperti itu. Maka, ini ada beberapa cara yang bisa dipilih untuk menjawab pertanyaan, meskipun pertanyaan itu pertanyaan remeh dan mudah.
1. Berhenti dan berpikir (atau pura-pura berpikir) jangan langsung menjawab, ini akan membantu kita menyusun kata-kata dan membuat audience yang bertanya merasa pertanyaannya berbobot, karena bisa bikin pembicara mikir.
Misal:
Q: pak, ada berapa kaki sapi?
A: hmmm,,,, (diam sejenak) sepengamatan saya, kaki sapi ada 4.
Bandingkan dengan
Q: pak, ada berapa kaki sapi?
A: kaki sapi ada 4 atuh.
2. Bila Anda tidak suka diam dan berpikir, ulang lagi pertanyaan penanya dengan bahasa Anda sendiri, atau puji pertanyaannya, atau jelaskan urgensi dari pertanyaannya.
Misal:
Q: pak, kenapa kita harus makan?
A: pertanyaan yang bagus sekali, kadang kita sangat menganggap biasa sesuatu yang sudah rutin kita lakukan tanpa mempertanyakan esensinya, pertanyaan ini penting untuk kita simak, jadi makan adalah cara kita mengisi kembali energy kita, tanpa energy kita tidak akan bisa beraktivitas.
Tentu saja contoh pertanyaan diatas kelewat sederhana, Anda bisa mengganti pertanyaan diatas dengan pertanyaan yang mudah Anda jawab seputar topik yang Anda sampaikan.
Intinya adalah,hal yang remeh dan mudah bagi kita selaku pembicara mungkin adalah hal yang penting dan mendesak bagi penanya. Hargai perbedaan pandangan ini dan kita akan menjadi penjawab pertanyaan yang lebih efektif.

tips public speaking edisi #11

Saya tampak lagi rajin bikin tips nih, semoga tidak apa-apa, kan jadi lebih banyak yang bisa segera diterapkan.

Tips kali ini adalah, jreng jreng…

KONSEP DIRI

Waktu itu saya berbincang dengan Vani dan saya teringatkanakan audio CD Anthony Robbins yang filenya saya dapat dari Hari. Perbicangan kita berkaitan dengan salah satu tips paling dahsyat di public speaking. Yaitu tentang Konsep Diri. Saking dahsyatnya, materi konsep diri ini selalu menjadi bagiandari training di Karisma bahkan sejak sebelum saya masuk Karisma pada tahun2001 (aduh jadi merasa tua kalau nyebut tahun teh). Entah kenapa saya tidakpernah terpikirkan sebelumnya dan baru nyadar setelah ngobrol ama Vani.

Setiap kita memiliki pandangan tentang siapa diri kita. Misalnya:seseorang yang cantik, seseorang yang ramah, seseorang yang cerdas, dan lainsebagainya. Kita juga memiliki pandangan tentang HUBUNGAN kita dengan oranglain. Misalnya kita punya pandangan bahwa ‘saya tidak pernah bisa menghadapi audience yang lebih tua dari saya’, atau ‘saya mah susah kalo ngasi materi didepan anak punk’, atau ‘saya ngga bisa bicara bebas kalau ada anak Karisma yanglihat’ btw, yang terakhir ini adalah “penyakit”nya Yahya, hehe…

Ada juga pandangan yang sempat disampaikan mas Eko pada sayabeberapa hari sebelum saya jadi trainer di Power Teaching Training. Dia berkata”kita harus menunjukkan bahwa kita expert, meninggi dibandingkan peserta,”well, itu adalah cara pandang yang menarik yang banyak digunakan oleh para pembicaraterhadap audiencenya.

Bagi setiap kita ada pandangan tersendiri tentang hubungan diridan orang lain. Beberapa bisa menghambat kita menjadi pembicara yang efektifdan beberapa bisa mendukung efektivitas presentasi kita.

Misalnya tadi, kita berpandangan bahwa kita tidak bisamenghadapi anak punk, artinya kalau kita diminta ngasi ceramah di depan anakpunk, belum ngomong pun kita sudah kalah. Kita sudah meyakini bahwa kita tidakbisa. Akhirnya secara tidak sadar, cara penyampaian kita terganggu, danpresentasi kita jadi tidak efektif. Lalu ujung-ujungnya kita berkata, tuh kan sayamah ngga bisa kalau harus ngomong depan anak punk. Keyakinan kita yang salahtelah diperkuat dan kita makin yakin kalau kita tidak bisa.

Jadi, sebelum kita melakukan presentasi, bersihkan dulu dirikita dari segala praduga terhadap diri kita dan hubungan kita dengan audience. Buatsebuah cara pandang yang menguatkan diri kita dan bukan melemahkan.

Ini yang saya lakukan saat menjadi trainer di Power TeachingTraining. Saya agak tidak sepakat dengan mas Eko, saya tidak suka ide bahwapembicara harus TAMPAK lebih expert. Akhirnya saya membuat pandangan baru yang membuatsaya nyaman berhadapan dengan audience saya yang mayoritas guru. Sayamengatakan pada diri sendiri, saya adalah tipe pembicara yang menyatu dengan audience, saya berinteraksidengan mereka, menjadi teman mereka, saya tidak perlu menjadi lebih pakar dari audience, saya belajar bersama audience saya.

Btw, saya memangselalu takut pada beberapa golongan audience tertentu, salah satunya adalahapabila saya berhadapan dengan audience yang usianya jauh lebih tua dari saya. Padapower teaching training kemarin, hampir semua audience usianya lebih tua darisaya, jadi bisa dibayangkan betapa seramnya kondisi saat itu –bagi saya. Denganberpegang pada pandangan bahwa saya adalah pembicara yang menyatu denganaudience, saya merasa lebih nyaman berhadapan dengan audience yang sebelumnyatampak menakutkan bagi saya.

So, kesimpulannya ini langkah-langkah yang harus dilakukan:

– cari tahu apa pandangan yang kita miliki tentang HUBUNGANkita dengan audience

– cek apakah membuat kita lebih efektif dalam presentasi

– jika tidak membuat kita efektif, ubah dengan yang membuat kita nyaman saat presentasi.

tips public speaking edisi #10

selamat datang kembali, Anda masih di pembahasan tentang public speaking.

terima kasih ya, masih bersama saya membahas tips yang akan membuat presentasi Anda lebih asik lagi.

tips kali in adalah:

STOP BLOWING THE MICROPHONE

Tips kali ini sederhana sekali. Setiap kita tampil biasanya kita disuguhi dengan microfon. Kita kadang gemes dan iseng pengen tahu mic berfungsi atau tidak. Lalu apa yang kita lakukan, kita meniupnya!

Well, next time please don’t do that.

Mic itu ngga panas, ngga usah ditiup supaya jadi dingin. Emangnya kopi ditiup-tiup. Sebagai ganti dari meniup mic, ini beberapa alternatif.

1. Amati orang yang menggunakan mic sebelumnya.Bila berfungsi, artinya tidak usah di cek lagi, langsung gunakan saja. Itu akanmembuat Anda terlihat keren, karena seakan yakin semua dalam keadaan berfungsi dengan baik.

2. Perhatikan juga apakah orang sebelum Anda MEMATIKAN MIC, kadang ada orang yang mematikan mic setelah DIA menggunakannya. Padahal ada orang lain yang akan menggunakan setelah dia. Saya termasuk orangseperti ini, alasannya menghidari feed back alias suara mendengung yang kadangmuncul ketika mic hidup, padahal jarang sekali terjadi. Jika Anda mengamatikalau orang sebelum Anda mematikan mic, artinya sebelum Anda bicara apapun,pastikan Anda MENYALAKAN mic, tetep TANPA perlu meniupnya.

3. Jika Anda gemes pengen ngecek mic, lakukan dengan cara ini, berkatalah satu kata sapaan singkat, misalnya “hai.” Bila mic berfungsi, langsung teruskan, jika tidak, panggil orang untuk betulin mic.Karena berarti mic rusak.

tips public speaking edisi #9

Maaf banget lama ngga bikin tips lagi,,,

Apakah kemampuan public speaking Anda sudah membaik? saya harap begitu. Untuk membuatnya lebih baik lagi, ayo kita lanjutkan dengan tips #9.

EXPERIENTIAL LEARNING ANYONE?

Bulan-bulan kemarin saya berkesempatan bertemu lagi dengan Benny, Teh Nia, Pak Dodih, Eva,dan Icha. Saya bertemu dengan Benny di acaranya commitment poltekpos. sedangkansisanya saya temui berkaitan dengan acara MOS SMP Salman Al Farisi yang namanya saya lupa terus. marmut, morris, mellow, atau apa gitu… hehe, piss ya,,beneran ga inget aku teh,,,

Menarikmemang. Hari minggu saya bertemu dengan mahasiwa. Senin bertemu dengan anak-anak yang baru masuk smp. Perbedaan usia kadang memang menjadi masalah dalam cara kita menyampaikan materi. Susah sepertinya menceramahi anak yang baru lulus SD. sebaliknya, mahasiswa juga sudah bosan dengan ceramah dosen saat kuliah. Perlu metode lain yang berbeda.

Well,salah satu metode lain itu adalah experiential learning. saya menggunakan metode ini untuk menyampaikan materi pada kedua audience tersebut. Prinsip darimetode ini adalah orang lebih mudah memahami sesuatu saat mereka memilikipengalaman tentang hal itu. Jadi tugas kita selaku presenter adalah menciptakanpengalaman bagi audience kita. Hal ini supaya audiencenya jadi lebih ngerti apayang kita bicarakan. Terutama kalau materi kita sesuatu yang rada-rada abstrak.

Misalnya kita harus menjelaskan tentang angin pada anak SD. Definisi angin adalah udarayang bergerak. Daripada kita dengan polosnya mengatakan “anak-anak angin adalah udara yang bergerak.” Kita bisa membuatkan pengalaman untuk anak-anak itu. Misalnyadengan berkata seperti ini “coba sekarang semua tiup tangannya” setelah semuaanak niup-niup, lalu kita berkata, “kerasa ngga ada udara dari mulut kena ke tangan? Nah angin juga semacam itu udara yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain,ayo semua kita ke lapangan, kita sama-sama rasakan angin yang lebih gede daripada tiupan tadi”

Coba dengan materi yang lebih keren. Misalnya kepemimpinan, pengalaman apa yang bisa diciptakan sehingga orang paham tentang kepemimpinan?

Hmmm….Cara aneh mungkin dengan seperti ini. Misalnya kita lagi dihadapan para karyawan nih ya, ngasi training gitu, bisa aja kita bilang, “oke semua berdiri” biasanya masih pada nurut dan pada berdiri semua. Lalu, kita berkata, “ya,terima kasih sudah pada berdiri, sekarang, silakan semua merangkak ke hadapan saya” biasanya orang-orang pada melongo dan ngorek-ngorek kuping memastikan ngga salah denger. Kita tinggal tersenyum saja, lalu berkata,”oke, ngga jad deh merangkaknya, silakan semua kembali duduk” setelah semua duduk, lalu kitalanjutkan “menarik bukan, seorang pemimpin kadang didengarkan dan dipatuhi oleh orang lain, tapi kadang juga tidak, apa kira-kira hal-hal yang membuat seorang pemimpin dituruti?” dan Anda bisa mulai diskusi panjang tentang kepemimpinan.

just for fun: catatan harian wanita

CATATAN HARIAN
SEORANG PEREMPUAN :

Pada usia 14 tahun, ada cowok yang pedekate, sungguh lelah ngumpet
darinya.
Pada usia 24 tahun, tak ada yang pedekate, sungguh lelah memikirkannya.

Cowokku pura-pura mabuk dan mengajakku pulang ke rumahnya, sungguh
lelah menolaknya.
Cowokku bener-bener mabuk dan muntah di lantai, sungguh lelah
membersihkannya.

Ada yang pinjem uang sama cowokku, aku takut mereka tak bayar, sungguh
lelah mencemaskannya.
Cowokku pinjem uang dengan orang lain, sungguh takut orang lain menagih
utang padaku, tambah
lelah mencemaskannya.

Melahirkan anak laki-laki takut anakku mirip ayahnya yang ngga punya
masa depan, mengurusnya
sungguh lelah.

Melahirkan anak perempuan, takut dia tertipu seperti ibunya, sama
lelahnya.

Waktu suami lagi kere, tiap hari harus irit, sungguh lelah.

Waktu suami lagi banyak uang, takut dia di luar belajar yang
tidak-tidak, sungguh lelah.

Suami terlalu ganteng, di jalanan selalu ada cewek yang curi-curi
pandang, aku lelah.
Suami terlalu jelek, setiap keluar di jalan, sungguh lelah harus
menjelaskan ke orang-orang
kalo dia bukanlah supirku

LELAKI MEMANG MENYUSAHKAN !!!!

Jika kamu memperlakukannya dengan baik, dia pikir kamu jatuh cinta
padanya..
Jika tidak, kamu akan dibilang sombong.

Jika kamu berpakaian bagus, dia pikir kamu sedang mencoba untuk
menggodanya.
Jika tidak, dia bilang kamu kampungan.

Jika kamu berdebat dengannya, dia bilang kamu keras kepala.

Jika kamu tetap diam, dia bilang kamu nggak punya otak.

Jika kamu lebih pintar dari pada dia, dia akan kehilangan muka.

Jika dia yang lebih pintar, dia bilang dia paling hebat.

Jika kamu tidak cinta padanya, dia akan mencoba mendapatkanmu.

Jika kamu mencintainya, dia akan mencoba untuk meninggalkanmu.

Jika kamu beritahu dia masalahmu, dia bilang kamu menyusahkan.

Jika tidak, dia bilang kamu tidak mempercayai mereka.

Jika kamu cerewet pada dia, kamu dibilang seperti seorang pengasuh
baginya.
Tapi jika dia yang cerewet ke kamu, itu karena dia perhatian.

Jika kamu langgar janji kamu, kamu tidak bisa dipercaya.

Jika dia yang ingkari janjinya, dia melakukannya karena terpaksa.

Jika kamu merokok, kamu adalah cewek liar !!!

Tapi kalo dia yang merokok, dia adalah seorang gentleman, WUIIHHH..!

Jika kamu menyakitinya, kamu dibilang perempuan kejam.

Tapi jika dia yang menyakitimu, dia bilang itu hanya karena kamu
terlalu sensitif dan
terlalu sulit untuk dibuat bahagia !!!!!

Jika kamu mengirimkan ini pada cowok-cowok, mereka pasti bersumpah
kalau ini tidak benar.
Tapi jika kamu tidak mengirimkan ini pada mereka, kamu akan kehilangan
kesempatan untuk
mengatakan mereka egois!!!